Tanggal 05 – 03 – 2005
BUDDHA CI KUNG MENURUNKAN PETUNJUK SUCI :
Moralitas Manusia di Dunia makin merosot,
hati Manusia sudah tidak sebaik hati Manusia zaman dulu lagi,
Manusia di Dunia melakukan penindasan, penyelundupan,
kelicikan, penipuan, serba melampaui batas,
sehingga di Dunia ada satu hawa kebencian
membumbung ke Langit.
Dewa Penguasa Alam Dewa-Dewi sangat marah,
sehingga memerintahkan Dewa Bagian Salju
menurunkan salju dahsyat
dan udara dingin di Empat Benua,
untuk mengingati Manusia di Dunia
agar Manusia mengetahui dan memperbaiki-nya,
kalau tidak maka hukuman akan diteruskan,
tidak terhindarkan.
Buddha Ci Kung :
Murid bodoh,
mari keliling untuk buat Buku.
( saat itu
Buddha Ci Kung mengibaskan kipas-nya dengan ringan,
seketika itu Roh Thung Sheng mengikuti-nya )
Thung Sheng :
Murid memberi Salam Suci kepada Guru.
Guru, hari ini cuaca sangat dingin,
baju Kamu sangat tipis,
apakah tidak kedinginan ?
Buddha Ci Kung :
Hei… hei…
Murid bodoh memang Murid bodoh,
badan suci Guru,
mana-lah takut akan hal itu ?
Angin, dingin, panas, api tidak bisa melukai-nya.
Tapi kamu punya hati ini,
walaupun bodoh tapi lucu juga,
Guru tergugah juga,
kita sambil jalan sambil ngobrol.
( saat itu Buddha Ci Kung mengucapkan kata suci,
Naga emas Pelindung seketika hadir,
ber-dua Guru dan Murid naik ke atas Naga,
menuju ke tempat tujuan hari ini )
Thung Sheng :
Guru,
dalam hati Murid ada 2 hal yang ingin ditanyakan pada Guru,
tidak tahu apakah diijinkan ?
Buddha Ci Kung :
Murid bodoh,
kalau memang mendapat Titah untuk buat Buku,
ada pertanyaan segera-lah ditanyakan,
tidak apa-apa.
Thung Sheng :
Yang pertama adalah pada Bulan 6 Tanggal 26 Imlek
terjadi kebakaran besar pada gedung tinggi Cin Sha
di Tai Cung,
ada 4 Orang jadi korban.
* *
Yang pertama adalah seorang Petugas Kesejahteraan
yang bernama Huang O O,
yang ke-dua adalah Kepala Bagian Pekerjaan Umum
yang bernama Huang OO,
yang ke-tiga adalah Wakil Ketua
bernama Chen OO,
yang ke-empat adalah Petugas Pekerjaan Umum
bernama Siau OO.
* *
Ke-4 Orang itu
pada saat kebakaran menjalankan tugas dengan kesetiaan,
demi mencegah api makin membesar, ke Tingkat atas
untuk beri bantuan sampai harus mengorbankan nyawa sendiri,
membuat Orang sedih.
Mohon Petunjuk Guru,
Orang seperti itu yang mengorbankan diri-nya
untuk menolong Orang,
setelah meninggal Tuhan akan kasih penghargaan macam apa ?
Mohon Petunjuk Guru.
Buddha Ci Kung :
Boleh.
Semasa Manusia di Dunia meninggal
karena ada Kesetiaan, ber-Bakti,
jaga Kehormatan dan Kebenaran,
tergantung tingkat kedalaman sifat tersebut
akan dibagi jadi Malaikat
dengan Tingkatan Atas, Menengah, dan Bawah.
* *
Seperti yang kamu katakan
kasus kebakaran gedung tinggi Cin Sha,
ke-4 Orang itu rela mengorbankan diri demi menolong Orang,
dengan berani jalankan Kebenaran.
Saya sudah menuntun Roh ke-4 Orang itu
untuk membina, sampai capai kesempurnaan.
Thung Sheng :
Sangat baik sekali,
sangat gembira untuk ke-4 Orang itu,
tapi kenapa mereka begitu beruntung
bisa mendapat bimbingan Guru ?
Buddha Ci Kung :
Karena dalam beberapa Kehidupan
mereka ada membina diri,
lagipula ada jodoh dengan Guru,
dan bisa korbankan diri untuk tolong Orang,
karena-nya Saya pergi menuntun mereka.
Thung Sheng :
Ternyata begitu,
Terimakasih atas Petunjuk Guru.
Murid pikir kalau Manusia di Dunia
bisa belajar tindakan Kebenaran dari ke-4 Orang itu,
akan memenuhi Dunia ini
dengan cinta kasih dan keindahan.
* *
Belakangan ini iklim Bumi berubah menjadi tidak normal,
dingin sekali,
di beberapa Negara turun salju yang dahsyat
sampai musim semi
masih belum terlihat bunga bersemi dan kicauan burung,
bahkan tempat yang biasanya tidak turun salju,
juga pelan-pelan turun salju.
* *
Gunung Alisan dalam kurun 71 tahun turun salju
untuk ke-dua kali-nya,
bahkan Sin Cu daerah Pegunungan yang berada 1.200 meter
di atas permukaan laut juga turun salju.
Eropa, Jepang, Amerika,
berbagai Negara juga mengalami bencana salju.
Boleh-kah mohon penjelasan Guru,
untuk sadarkan Manusia di Dunia ?
Amithofo.
Buddha Ci Kung :
Murid bodoh,
kenapa meniru Para Biksu ?
Guru akan jelaskan secara singkat.
Belakangan ini hati Manusia sudah melenceng,
bukan-kah setiap hari kamu baca koran dan nonton TV,
ada pembunuhan, mutilasi, perampokan,
narkoba, sex bebas, penembakan,
kelompok penipuan, segala penipuan dan kelicikan
dilakukan Manusia di Dunia,
sehingga ada satu hawa kotor (gelap) membumbung ke Langit.
Dewa Penguasa Alam Hawa (Dewa-Dewi)
mendapat laporan dari berbagai Malaikat,
Para Buddha, Malaikat Pagi-Malam,
Malaikat Pengawas-Pencatat,
sangat marah sekali,
lantas memerintahkan Malaikat Salju
untuk menurunkan salju di berbagai Negara,
untuk menghukum Manusia yang hati-nya sudah jadi bejat.
* *
Hati Manusia mencerminkan Langit,
Langit mencerminkan hati Manusia,
ini merupakan hakekat Kebenaran yang tidak berubah dari dulu,
Kakek kamu (dari pihak Mama) Lin Cen An
bertugas di Bagian Salju di Surga Nan Thian,
mendapat Titah untuk menurunkan salju di Jepang,
tahu-kah kamu ?
Thung Sheng :
Murid tidak tahu,
tapi mendengar penuturan Guru,
Murid merasa sangat bangga,
Kakek bisa mendapat Titah dari Dewa Alam Surga,
menjalankan tugas menurunkan salju,
merupakan kebanggaan Murid,
tidak tahu
apakah Dia ada menyelesaikan tugas-nya dengan baik ?
Buddha Ci Kung :
Perlu beberapa waktu untuk menyelesaikan-nya.
Saya harap Orang di Dunia
bisa memperbaiki kesalahan-nya menuju Kebaikan,
bergiat menjalankan Kebaikan, membina diri,
untuk menyelamatkan bencana alam yang besar.
Kalau tidak,
masih akan turun bencana besar lain-nya,
keadaan-nya lebih dahsyat dari tsunami di Asia Selatan,
Manusia di Dunia mesti-nya sadar-lah,
jangan menganggap ucapan Buddha hanya omong kosong belaka.
Thung Sheng :
Sungguh repot,
tsunami Asia Selatan yang lalu
sudah makan korban 250.000 Orang lebih,
kalau bencana yang lebih dahsyat
bukan-kah akan memakan korban yang lebih mengerikan ?
Mohon Kewelasasihan Buddha,
selamatkan Umat Manusia yang mengibakan.
Buddha Ci Kung :
Bukan-nya Buddha tidak welas asih,
sebenarnya karma bersama yang sulit diubah.
Hanya jika Manusia di Dunia
bisa memperbaiki kesalahan menuju Kebaikan,
baru bisa terhindar dari bencana besar.
( pada saat Guru dan Murid lagi ngobrol,
Naga emas menyelam masuk ke Lautan,
ke arah Laut Timur.
Banyak ikan yang berenang diantara-nya,
pemandangan yang indah sekali.
Ada Tentara Pasukan Laut,
Jenderal Udang dan Kepiting yang lagi bertugas diantara-nya,
ini sulit dilihat oleh mata kasat Manusia. )
Thung Sheng :
Yah… nenek !
Kenapa dalam sekejap Naga emas menenggelamkan diri
ke dalam Lautan,
saya tidak bawa baju selam,
juga tidak bawa masker oksigen, senjata pelindung,
kalau ketemu ikan hiu bagaimana ?
Buddha Ci Kung :
Murid bodoh !
kamu dan Saya tidak ada badan raga-nya,
mana perlu perkakas itu ?
Ada Guru dan Naga emas yang lindungi,
kamu takut apa ?
Thung Sheng :
Wow…!
Benar juga,
begitu badan terkena air juga tidak basah dan terasa dingin,
bahkan di atas badan Guru dan Naga
terpancar sinar keemasan dan sinar violet yang indah,
seluruh Lautan Timur berubah jadi terang benderang,
terlihat Tentara Pasukan Laut,
dulu pernah mendengar
kalau Wanita yang galak sering disebut “Laskar Wanita”,
kedengaran-nya sangat mirip dengan ini,
Murid terlihat langsung merinding seluruh tubuh-nya,
dalam hati terasa takut.
Buddha Ci Kung :
Murid bodoh jangan takut,
Tentara Pasukan Laut mendapat Titah
dari Raja Naga Laut Timur untuk jalankan tugas,
tampang-nya sangat ganas.
Asalkan hati Manusia tidak ada niat buruk,
biasanya tidak melakukan kejahatan,
kalau melihat-nya mana-lah perlu takut ?
Thung Sheng :
Murid ber-nyali kecil,
begitu melihat-nya langsung takut,
jika Murid ada Guru yang melindungi,
maka saya tidak perlu takut lagi.
( begitu Thung Sheng selesai bicara,
di depan tiba-tiba muncul seekor kura-kura raksasa
yang ukuran-nya sebesar gunung.
Begitu buka mulut,
sekelompok ikan sudah ditelan oleh-nya,
termasuk ikan hiu juga ditelan,
sungguh menakutkan ! )
Thung Sheng :
Wow! Tolong! Guru…!
Apakah kita akan dimakan-nya ?
Buddha Ci Kung :
Hai ! Murid bodoh,
sebesar apa pun mulut-nya,
apakah bisa menelan Titah Suci dari TUHAN ?
Kita Guru dan Murid mendapat kuasa TUHAN untuk buat Buku,
Para Buddha dan Dewata di 3 Alam harus membantu-nya,
apalagi kura-kura raksasa ?
* *
Jika ada pelanggaran,
Buddha sudah meminjam pedang mustika 7 Bintang,
untuk memenggal-nya agar tidak menganggu,
Murid jangan takut.
Nanti Guru akan gunakan kata suci
untuk mengeluarkan rohani-nya,
kemudian di-wawancarai.
( waktu itu Buddha Ci Kung mengucapkan kata suci,
begitu kipas-nya dikibaskan,
mengatakan [ keluar ],
rohani kura-kura seketika keluar dari badan-nya,
ternyata seorang Kakek tua yang sudah ubanan,
Kakek tua ini berjalan dengan pelan-pelan ke depan,
sampai di hadapan Buddha Ci Kung,
bersujud memberi salam pada Buddha Ci Kung. )
Buddha Ci Kung :
Tak perlu sungkan, berdiri-lah.
Thung Sheng :
Murid memberi salam pada Dewata tua,
tidak tahu bagaimana menyapa ?
Kenapa bentuk rohani dan wujud asal-nya beda sekali ?
sungguh menakutkan !
Kakek Tua :
Ha… ha…!
Thung Sheng jangan takut,
saya di sini sudah 3.000 tahun lama-nya,
tapi belum berhasil dalam pembinaan,
karena karma pembunuhan yang sangat berat
selama beberapa Kehidupan.
* *
Setelah meninggal saya terlahir di Dunia air,
pada awal-nya badan saya kecil,
tapi seiring perjalanan waktu,
badan saya makin lama makin besar, saya juga heran !
Karena saya hanya makan ikan yang buas,
sedangkan ikan-ikan yang kecil dan lucu
justru ikut di samping saya,
agar tidak dimakan oleh ikan yang besar,
saya juga senang bisa jadi pelindung bagi mereka.
Karena saya ada Kebajikan ini,
Raja Naga Laut Timur menuntun saya untuk membina di sini,
sekarang sudah berjalan 3.000 tahun lama-nya.
Thung Sheng :
Aneh !
3.000 tahun masih belum berhasil dalam pembinaan,
apa sebab-nya ?
Kakek Tua :
Cerita-nya panjang,
3.000 tahun yang lampau saya adalah Pemimpin bajak laut,
sering merampas kalap dagang yang lewat,
segala harta benda yang ada di kapal dirampok habis,
juga membunuh Orang-orang yang ada di kapal.
* *
Karena membunuh,
maka setelah meninggal karena karma pembunuhan sangat berat,
dihukum terlahir di Dunia air,
untung-lah saya masih ada satu niat baik,
sehingga bisa membina untuk terlepas dari Tumimbal Lahir,
tapi berada di air yang dingin sangat-lah menderita,
harus menahan diri terhadap air
yang dingin-nya menusuk tulang
serta berat-nya beban cangkang yang besar,
gerakan jadi lamban,
sangat menderita,
mengharapkan Buddha Ci Kung
menyelamatkan saya terlepas dari penderitaan.
Buddha Ci Kung :
Kamu baik-baik-lah membina,
kalau waktu-nya sudah sampai,
Saya akan datang menjemput kamu.
Kakek Tua :
Terimakasih pada Buddha Ci Kung ber-Welas Asih.
Buddha Ci Kung :
Waktu-nya sudah lama,
dikhawatirkan badan raga-nya kecapean,
kembali ke Vihara saja-lah.
(waktu itu Buddha Ci Kung mengucapkan kata suci,
mengembalikan Roh kura-kura ke badan-nya,
Guru dan Murid naik ke atas Naga emas
kembali ke Vihara Chiien Cen)
Buddha Ci Kung :
Vihara Chiien Cen sudah sampai,
Roh Thung Sheng kembali ke badan-nya.
Sudah,
saya pulang.